HIBRIDITAS PADA NASKAH DRAMA MANGIR KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOUR
Authors
- Najwa Qotrunnada Universitas Pekalongan
- Naurotul Ariji Universitas Pekalongan
- Fahrudin Eko Hardiyanto Universitas Pekalongan
- Etika Widi Utami Universitas Pekalongan
DOI:
https://doi.org/10.36085/lateralisasi.v13i2.8700Keywords:
Hibriditas, Naskah, Pramoedya Ananta TourAbstract
Penelitian ini membahas hibriditas dalam naskah drama “Mangir” karya Pramoedya Ananta Toer, yang menggambarkan interaksi kompleks antara nilai sosial, budaya, pendidikan, religius, dan politik dalam konteks masyarakat kerajaan Mataram Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisis konten. Teknik analisis data dalam penelitian ini mengacu pada model analisis interaktif. Model ini terdiri dari tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Penelitian ini menemukan bahwa naskah drama “Mangir” mencerminkan adanya hibriditas didalamnya.Hibriditas tersebut tercermin pada masyarakat Mangir yang berprinsip gotong royong, keadilan sosial, solidaritas, dan penghormatan pada tradisi serta nilai religius yang terjalin erat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, naskah ini juga mengangkat kritik terhadap masa otoriter dan menekankan pentingnya kepemimpinan yang egaliter. Melalui hibriditas sastra tersebut, Pramoedya Ananta Tour berhasil menyampaikan dinamika kehidupan masyarakat pad masa tersebut.
Author Biography
Najwa Qotrunnada, Universitas Pekalongan
Hibriditas pada Naskah Drama Mangir Karya Pramoedya Ananta Tour
Najwa Qotrunnada1, Naurotul Ariji2, Fahrudin Eko Hardiyanto3, Etika Widi Utami4
Universitas Pekalongan
qotrunnadanajwa25@gmail.com1, naurotulariji166@gmail.com2, fahrudineko@gmail.com3, etikawidi7@gmail.com4
Abstrak
Penelitian ini membahas hibriditas dalam naskah drama “Mangir” karya Pramoedya Ananta Toer, yang menggambarkan interaksi kompleks antara nilai sosial, budaya, pendidikan, religius, dan politik dalam konteks masyarakat kerajaan Mataram Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisis konten. Teknik analisis data dalam penelitian ini mengacu pada model analisis interaktif. Model ini terdiri dari tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Penelitian ini menemukan bahwa naskah drama “Mangir” mencerminkan adanya hibriditas didalamnya.Hibriditas tersebut tercermin pada masyarakat Mangir yang berprinsip gotong royong, keadilan sosial, solidaritas, dan penghormatan pada tradisi serta nilai religius yang terjalin erat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, naskah ini juga mengangkat kritik terhadap masa otoriter dan menekankan pentingnya kepemimpinan yang egaliter. Melalui hibriditas sastra tersebut, Pramoedya Ananta Tour berhasil menyampaikan dinamika kehidupan masyarakat pad masa tersebut.
Kata kunci : Hibriditas, Naskah, Pramoedya Ananta Tour
Abstract
This study discusses hybridity in the drama script "Mangir" by Pramoedya Ananta Toer, which depicts the complex interaction between social, cultural, educational, religious, and political values in the context of the Mataram Islamic kingdom society. This study uses a qualitative descriptive method with content analysis. The data analysis technique in this study refers to the interactive analysis model. This model consists of three stages, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions or verification. This study found that the drama script "Mangir" reflects the presence of hybridity in it. This hybridity is reflected in the Mangir community which has the principles of mutual cooperation, social justice, solidarity, and respect for tradition and religious values that are closely intertwined with everyday life. In addition, this script also raises criticism of the authoritarian era and emphasizes the importance of egalitarian leadership. Through this literary hybridity, Pramoedya Ananta Tour successfully conveys the dynamics of community life at that time.
Keywords: Hybridity, Script, Pramoedya Ananta Tour
PENDAHULUAN
Hibrida pada sastra adalah jenis sastra yang merupakan hasil proses dari blasteran; hasil penggabungan; persilangan; antara sub spesies yang berbeda dalam suatu spesies; antara genera yang berbeda; telah diproduksi dari dua tipe yang berbeda; campuran dua hal yang sangat berbeda; dan antar-generik antara jenis dan/ atau unsur-unsur pembangun karya sastra. Fakta karya sastra hibrida dapat dilihat dari jenis sastra puisi: narrative poem, couplet poem, concrete poem, fiction prose, dan drama/ play. Salah satu karya sastra yang mengandung unsur hibrida yaitu naskah drama.
Sejak zaman dahulu, naskah drama menjadi media yang efektif untuk merefleksikan kondisi sosial, politik, dan budaya suatu masyarakat di waktu tertentu. Maraknya permasalahan seperti isu-isu sosial, politik, ekonomi, budaya, dll yang terjadi pada tahun tertentu tertuang seluruhnya dalam sebuah naskah drama. Melalui naskah yang disajikan, drama mampu mengungkap ketidakadilan seperti isu kemiskinan, diskriminasi, korupsi, dan ketidakadilan lainnya. Selain itu, drama mampu menjadi wadah bagi aspirasi atau suara-suara yang terpinggirkan. Isu-isu yang jarang dibicarakan di ruang publik, seperti hak-hak minoritas, isu gender, atau lingkungan hidup yang dapat diangkat dalam sebuah pementasan. Melalui konflik dan penyelesaian masalah dalam pementasan, drama mampu menginspirasi penonton untuk bertindak dan terlibat dalam upaya perubahan sosial. Drama juga membuat penonton untuk melihat suatu isu dalam setiap sudut pandang. Sehingga dapat memperluas wawasan penonton.
Drama merupakan karya sastra yang didalamnya selalu ada unsur intrinsik, seperti pada umumnya karyasastra. Drama dibuatoleh sang pengarang untukberbabgi cerita pengalaman hidupnya ataupun orang lain. Drama biasa memiliki naskah dengan begitu naskah dalam drama tersebut yang dapat disebut sebagai drama.
Menurut Katrin Bandel, karya sastra merupakan salah satu produk budaya yang sejak awal menjadi fokus utama dalam kajian poskolonial. Bahkan sebelum istilah “sastra poskolonial” dikenal, para sastrawan dari negeri-negeri yang terjajah atau telah merdeka telah mengangkat pengalaman pascakolonial dalam karya-karya mereka (Bandel, 2013: 180). Stephen berpendapat bahwa kajian poskolonial melibatkan relasi antara sastra, kajian kultural, dan kolonialisme Eropa (Lestari, Suwandi, & Rohmadi, 2019). Dalam wacana ini, universalitas dihubungkan dengan pentingnya persatuan, sebuah isu yang memiliki relevansi besar dalam ideologi politik dan gagasan nasionalisme (Ashcroft, Griffiths, & Tiffin, 1995). Faruk (1994: 56) juga menegaskan bahwa gagasan persatuan menjadi tema sentral dalam dunia sastra, berperan sebagai pondasi bagi pembentukan dunia imajiner yang produktif.
Peneliti tertarik menganalisis hibriditas dalam naskah drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer karena karya ini mencerminkan kompleksitas kehidupan sosial, budaya, dan politik pada masa Kerajaan Mataram Islam. Sebagai sebuah karya sastra, Mangir membuat perpaduan berbagai nilai yang saling berinteraksi, seperti nilai tradisional dan modern, spiritual dan pragmatis, serta lokal dan global. Hibriditas ini tidak hanya menunjukkan dinamika hubungan antara individu, komunitas, dan kekuasaan, tetapi juga menggambarkan upaya Pramoedya dalam menggali realitas sejarah yang relevan dengan isu-isu universal, seperti keadilan, perlawanan, dan identitas. Analisis hibriditas ini, peneliti berharap dapat memahami lebih dalam bagaimana Mangir merepresentasikan transformasi sosial dan nilai-nilai masyarakat, sekaligus menawarkan perspektif baru tentang peran sastra dalam membaca dinamika sejarah dan budaya.
Kajian mengenai hibriditas dalam karya sastra telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Vita Ika Sari (2021) dalam penelitiannya yang berjudul “Hibriditas pada Cerita Rakyat Asal Mula Kota Slawi” mengungkapkan bahwa perpaduan antara nilai tradisional dan pengaruh luar menciptakan bentuk hibriditas budaya yang mencerminkan dinamika masyarakat lokal. Penelitian ini menunjukkan bahwa cerita rakyat juga dapat menjadi ruang negosiasi identitas antara masa lalu dan masa kini. Sementara itu, Puspitasari (2018) dalam penelitiannya terhadap novel Amba karya Laksmi Pamuntjak menyoroti bagaimana tokoh utama merepresentasikan identitas yang kompleks, yang terbentuk dari interaksi nilai-nilai tradisional dan modernitas. Keduanya menunjukkan bahwa hibriditas merupakan strategi sastra dalam merepresentasikan perubahan sosial dan kultural. Berdasarkan landasan tersebut, penelitian ini menganalisis naskah drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer sebagai teks yang juga memuat hibriditas, khususnya dalam konteks sosial, budaya, religius, dan politik pada masa Kerajaan Mataram Islam.
METODE PENELITIAN
Penelitian Hibriditas pada naskah drama “Mangir” Karya Pramoedya Ananta Tour ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode ini bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan obyek penelitian secara rinci dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Metode tersebut digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk-bentuk hibriditas pada naskah drama “Mangir” Karya Pramoedya Ananta Tour. Menurut Sugiono (2014 : 15) metode kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme , digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah. Penelitian kualitatif deskriptif bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual,dan akurat mengenai data, sifat, serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti (Mufidah & Antono, 2019).
Strategi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah strategi analisis konten, yang mencakup analisis unsur dan makna mendalam dari obyek penelitian ( Moleong, 2000 : 220). Analisis konten digunakan untuk mengkaji dokumen berupa naskah drama “Mangir” Karya Pramoedya Ananta Tour. Teknik analisis data dalam penelitian ini mengacu pada model analisis interaktif. Model ini terdiri dari tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Miles & Huberman,1992:16).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hibriditas pada naskah drama “Mangir” menjadi gambaran dari realitas sosial, budaya, pendidikan, religius, dan politik pada masa Kerajaan Mataram Islam, dimana berbagai identitas dan nilai berinteraksi, berkonflik, dan menghasilkan pengaruh baru.
Status Sosial
Nilai-nilai sosial dalam naskah Mangir mencerminkan kehidupan masyarakat tradisional yang menjunjung tinggi gotong royong, solidaritas, penghormatan terhadap adat, keadilan sosial, musyawarah, kerja keras, dan kepedulian antarindividu. Semua nilai ini menunjukkan pentingnya harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat. Berikut ini nilai-nilai sosial yang terkandung dalam kutipan naskah drama Mangir dan analisisnya.
Data 1
Baru Klinting : “ Semua orang boleh bersumbang suara, semua berhak atas segala, yang satu tak perlu menyembah yang lain, yang lain sama dengan semua.”
Dalam kehidupan sosial masyarakat Mangir, terdapat kesetaraan masyarakat sosial. Semua kalangan diperbolehkan untuk bersuara menyampaikan pendapatnya.
Data 2
Suriwang : “ Mangir akan tetap jadi Perdikan, tak bakal jadi kerajaan. Kepungan Mangir sama tajam dengan mata pedang pada lehernya.”
Solidaritas masyarakat Mangir terlihat dalam usaha mereka mempertahankan kedaulatan wilayah. Kebersamaan mereka adalah bentuk dukungan sosial untuk melawan tekanan dari pihak luar.
Data 3
Baru Klinting : “ Semua orang boleh bersumbang suara, semua berhak atas segala, yang satu tak perlu menyembah yang lain.”
Dalam kutipan percakapan tersebut, Mangir menjunjung tinggi keadilan sosial, di mana semua orang memiliki hak yang sama tanpa perbedaan status. Hal ini mencerminkan adanya kesetaraan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Data 4
Baru Klinting : “ Kalian berdua, apakah sudah selesai? ”
Dalam masyarakat Mangir, penyelesaian konflik dilakukan melalui musyawarah. Ini mencerminkan nilai sosial berupa pengambilan keputusan secara kolektif untuk mencapai kesepakatan bersama.
Data 5
Kimong : “ Empat puluh batang tangkai dalam sehari inilah tangan sahaya, sanggup kerjakan tanpa dusta.”
Kerja keras menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Mangir, di mana setiap individu bertanggung jawab untuk memberikan kontribusi sesuai kemampuan mereka.
Data 6
Baru Klinting : “ Tak pernah ada tahun lewat sejak leluhur pertama buka Perdikan ini.”
Penghargaan terhadap leluhur dan sejarah mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap sesama, baik yang hidup maupun yang telah tiada, sebagai bagian dari jalinan sosial mereka.
Nilai Pendidikan
Dalam naskah drama "Mangir," beberapa percakapan mencerminkan nilai-nilai pendidikan, seperti kejujuran dan menegakkan keadilan. Berikut ini data yang terbukti mencermikan nilai pendidikan.
Data 7
Baru Klinting : “Dengan mulutnya yang berdusta, hatinya setia mengabdi hanya pada diri sendiri.”
Hal ini merujuk pada Kimong yang dianggap tidak jujur karena berpura-pura sebagai orang desa untuk menyusup ke Mangir. Percakapan ini mengajarkan pentingnya kejujuran dan integritas dalam menjalankan tugas. Dusta hanya akan menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan dari orang lain.
Data 8
Suriwang : “ Kau tak kembali ke Mataram, tidak berhenti di Mangir.”
Suriwang memastikan bahwa seseorang yang tidak jujur tidak memiliki tempat di Mangir. Ini menunjukkan pentingnya menegakkan keadilan dan menjaga tatanan masyarakat.
Data 9
Baru Klinting: “Bumi ditanami jadi, semua usaha kembang.”
Analisis: Kehidupan sosial agraris masyarakat Mangir tercermin dalam hubungan harmonis mereka dengan alam. Mata pencaharian masyarakat Mangir berupa petani. Hal ini mencerminkan filosofi masyarakat Jawa yang mengutamakan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Nilai budaya
Daerah Mangir merupakan daerah yang kental dengan budayanya. Masyarakat tradisional disana masih mempertahankan warisan budaya dari leluhur. Hal tersebut terdapat beberapa percakapan yang mencerminkan nilai-nilai budaya dalam naskah drama "Mangir,". Berikut ini bukti percakapan yang mengandung nilai-nilai budaya di naskah drama “Mangir”.
Data 10
Narator : “Datanglah hari setelah setahun menanti Pesta awal Sura: Ronggeng, wayang, persabungan, gelut, lomba tombak, dekat-jauh, tua-muda, bujang-perawan, semua datang.”
Analisis: Tradisi perayaan awal Sura menunjukkan budaya seni seperti tari ronggeng dan wayang, yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Ini mencerminkan kekayaan seni tradisional dan adat istiadat dalam merayakan momen hari tertentu.
Data 11
Suriwang: “Tinggal sejengkal lidah dijadikannya tombak pusaka. Itulah konon tombak pusaka Si Baru Klinting.”
Analisis: Tombak pusaka memiliki makna simbolis sebagai lambang kekuatan, kehormatan, dan identitas. Dalam budaya Jawa, pusaka sering dianggap memiliki kekuatan spiritual dan menjadi warisan penting yang harus dijaga.
Nilai religius
Dalam naskah “Mangir” mengandung nilai-nilai religius yang dapat ditinjau dari berbagai prespektif, terutama dalam konteks budaya Jawa pada masa Kerajaan Mataram Islam. Mereka menganut kepercayaan kepada Tuhan, baik yang bersumber dari animisme, hindu-budha, ataupun islam. Hal ini terkandung dalam simbol-simbol spiritual, doa, serta praktik keagamaan yang masih di hormati oleh masyarakat Mangir. Berikut ini bukti percakapan yang mengandung nilai-nilai religius.
Data 12
Suriwang: “Ki Ageng lari seorang diri, jauh ke gunung Merapi, mohon ampun pada Yang Maha Kuasa.”
Analisis: Tokoh Ki Ageng Mangir Tua menunjukkan nilai religius dengan bertapa dan memohon ampun kepada Tuhan. Ini mencerminkan budaya Jawa yang sering mengaitkan spiritualitas dengan praktik tapa brata sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.
Data 13
Baru Klinting: “Biar menjijikkan begini, adalah putramu sendiri.”
Analisis: Percakapan ini menunjukkan pengharapan Baru Klinting agar diterima oleh ayahnya, dengan kesadaran bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan. Hal ini mencerminkan keyakinan akan takdir dan pentingnya doa dalam kehidupan.
Data 14
Narator : “Tersebut Ki Ageng Mangir Tua, tua Perdikan, wibawa ada dalam dadanya, bijaksana ada pada lidahnya.”
Analisis: Nilai religius ini tercermin dalam penggambaran Ki Ageng Mangir Tua sebagai sosok yang bijaksana, yang dalam budaya Jawa sering kali dianggap sebagai hasil dari hubungan spiritual yang kuat dengan Tuhan.
Data 15
Suriwang: “Hanya tinggal belati pusaka boleh kau menggunakan, tapi jangan kau lupa, dipangku dia jadi bahala.”
Analisis: Pusaka dalam budaya Jawa memiliki dimensi religius karena dianggap suci dan memiliki kekuatan spiritual. Dalam hal ini, penggunaan belati pusaka harus disertai dengan sikap hormat dan kesadaran akan nilai-nilai religius.
Data 16
Baru Klinting : “ Tepat di hadapan Ki Ageng Mangir Tua, Baru Klinting lingkari Gunung Merapi. Tinggal hanya sejengkal, lidah dijelirkan untuk penyambung, Ki Ageng memenggalnya dengan keris pusaka.”
Analisis: Percakapan ini mencerminkan kepercayaan pada konsep karma atau takdir. Tindakan dan keputusan manusia dipahami sebagai bagian dari kehendak Tuhan.
Data 17
Kimong: “Ampuni sahaya, jangan beri sahaya Laut Kidul. Beri sahaya kayu sono keling.”
Analisis: Permohonan Kimong ini menunjukkan sikap tunduk kepada kehendak Tuhan dan menerima konsekuensi atas perbuatannya. Hal ini mencerminkan nilai religius berupa penyerahan diri kepada Tuhan.
Nilai Politik
Dalam naskah drama “Mangir”, mengandung banyak nilai politik yang mencermikan dinamika kekuasaan serta hubungan antara penguasa dan rakyat pada masa Kerajaan Mataram. Berikut ini percakapan yang mengandung nilai politik.
Data 18
Baru Klinting: “Di mana pun jua, Suriwang, raja jadi beban semua.”
Analisis: Ungkapan ini menunjukkan kritik terhadap kekuasaan yang otoriter. Dalam budaya Jawa, kepemimpinan sering diukur dari filosofi hidup yang mengedepankan keseimbangan dan tanggung jawab, bukan dominasi.
Data 19
Baru Klinting: “Mataram takkan lagi mampu melangkah ke selatan. Kepungan Mangir sama tajam dengan mata pedang pada lehernya.”
Analisis: Strategi Baru Klinting menunjukkan bahwa politik bukan hanya tentang kekuatan militer, tetapi juga tentang perencanaan dan siasat untuk mempertahankan posisi politik suatu wilayah.
Data 20
Baru Klinting: “Masih belum kenal kau siapa Panembahan Senapati? Mula-mula membangkang pada Sultan Pajang, ayah angkat yang mendidik-membesarkannya, kemudian membunuhnya untuk bisa marak jadi raja Mataram?”
Analisis: Panembahan Senapati digambarkan sebagai pemimpin yang menggunakan manipulasi dan kekerasan untuk mencapai kekuasaan. Ini mencerminkan realitas politik yang sering melibatkan taktik-taktik licik demi mencapai tujuan.
Data 21
Suriwang: “Mataram bernafsu mengangkang di atas Mangir!”
Analisis: Ambisi Panembahan Senapati untuk menaklukkan Mangir mencerminkan dinamika politik berupa perebutan kekuasaan, di mana kerajaan berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya.
Data 22
Sinopsis:“Panembahan Senapati menggunakan berbagai cara, termasuk mengorbankan putrinya sendiri, Pambayun, untuk mendapatkan kekuasaan atas Mangir.”
Analisis: Pengorbanan Pambayun menunjukkan bagaimana kekuasaan sering kali diperoleh dengan mengorbankan individu, termasuk keluarga sendiri, demi kepentingan politik.
Data 23
Baru Klinting: “Pada akhirnya bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi.”
Analisis: Perlawanan Mangir terhadap Mataram menunjukkan semangat anti-penindasan dalam politik, di mana masyarakat kecil berusaha melawan dominasi kekuasaan besar.
Data 24
Baru Klinting: “Semua orang boleh bersumbang suara, semua berhak atas segala, yang satu tak perlu menyembah yang lain.”
Analisis: Kepemimpinan Baru Klinting menekankan politik egalitarian, di mana semua orang memiliki hak yang sama dalam pengambilan keputusan. Ini mencerminkan model politik yang menghormati hak rakyat.
SIMPULAN
Hibriditas yang terdapat dalam naskah drama "Mangir" karya Pramoedya Ananta Toer menggambarkan secara mendalam pertemuan dan interaksi berbagai nilai sosial, budaya, pendidikan, religius, dan politik dalam konteks kehidupan masyarakat Kerajaan Mataram Islam. Dalam karya ini, Pramoedya tidak hanya menggambarkan kehidupan sosial yang penuh dengan prinsip gotong royong, solidaritas, dan keadilan, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat Mangir berjuang mempertahankan nilai-nilai tersebut di tengah konflik dan pengaruh dari luar. Hibriditas ini terlihat pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesetaraan sosial yang diusung dalam dialog tokoh-tokoh seperti Baru Klinting, hingga kritik terhadap sistem kekuasaan yang otoriter, seperti yang ditunjukkan dalam dialog mengenai Panembahan Senapati.
Nilai-nilai pendidikan, seperti kejujuran dan integritas, turut dijunjung tinggi, seperti yang tercermin dalam ketegasan tokoh Suriwang terhadap ketidakjujuran. Begitu pula dengan nilai-nilai budaya yang kaya akan tradisi, seperti perayaan awal Sura yang menunjukkan kekayaan seni tradisional Jawa, dan nilai religius yang melekat pada budaya spiritual masyarakat Mangir, dengan berbagai simbol dan praktik keagamaan yang diterima. Dalam dimensi politik, naskah ini juga mencerminkan dinamika kekuasaan, baik dalam bentuk perlawanan terhadap dominasi politik dari luar maupun dalam filosofi kepemimpinan yang lebih egaliter dan mengutamakan hak rakyat.
Secara keseluruhan, "Mangir" menjadi sebuah karya yang kaya akan hibriditas budaya dan sosial, menggabungkan berbagai nilai yang saling berinteraksi dan memberi kontribusi pada pembentukan masyarakat Mangir. Hibriditas ini menciptakan sebuah gambaran yang realistis tentang kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Mataram Islam, serta menyajikan pelajaran moral yang relevan, baik dalam konteks sejarah maupun dalam kehidupan sosial masa kini.
DAFTAR PUSTAKA
Aulia,dkk.2024. " Makna Simbol-Simbol Tradisional Dalam Naskah Drama Mangir : Analisis Semiotoka Terhadap Budaya Lokal." Journal of Research and Social Research 7 No 4 : 2071-2077.
Khairuddin dkk."Ketidakadilan Gender dalam Kumpulan Naskah Drama Anak Bulan Kuning Karya Anom Ranura." Jurnal Onoma 9 No.1 : 161-172.
M.Yoesof. 2010."Drama di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) : Sebuah Catatan tentang Manusia Indonesia Di Zaman Perang. Makara, Sosial Humaniora 14 No. 1 : 11-16.
Rizal.2018."Menguasai Wacana Sastra Hibrida : Sebuah Istilah Popularitas Sastra." NUSA 13 no.1 : 85-98.
Sari, Vita. 2021. "Hibriditas pada Cerita Rakyat Asal Mula Kota Slawi : Suatu Kajian Sastra dan Budaya." Jurnal Prosiding Seminar Nasional, Bahasa, Sastra, dan Seni 1 : 219 - 223.
Sugiyono, (2017) . Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung :Alfabeta,CV.
https://naskahdrama-rps.blogspot.com/2010/08/manggir-pramudya-ananta-toer.html?m=1
References
Aulia,dkk.2024. " Makna Simbol-Simbol Tradisional Dalam Naskah Drama Mangir : Analisis Semiotoka Terhadap Budaya Lokal." Journal of Research and Social Research 7 No 4 : 2071-2077.
Khairuddin dkk."Ketidakadilan Gender dalam Kumpulan Naskah Drama Anak Bulan Kuning Karya Anom Ranura." Jurnal Onoma 9 No.1 : 161-172.
M.Yoesof. 2010."Drama di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) : Sebuah Catatan tentang Manusia Indonesia Di Zaman Perang. Makara, Sosial Humaniora 14 No. 1 : 11-16.
Rizal.2018."Menguasai Wacana Sastra Hibrida : Sebuah Istilah Popularitas Sastra." NUSA 13 no.1 : 85-98.
Sari, Vita. 2021. "Hibriditas pada Cerita Rakyat Asal Mula Kota Slawi : Suatu Kajian Sastra dan Budaya." Jurnal Prosiding Seminar Nasional, Bahasa, Sastra, dan Seni 1 : 219 - 223.
Sugiyono, (2017) . Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung :Alfabeta,CV.
https://naskahdrama-rps.blogspot.com/2010/08/manggir-pramudya-ananta-toer.html?m=1
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.







