Penanaman Nilai-Nilai Kebhinekaan Melalui Pendidikan Agama: Studi Kasus di SMAN 1 Silat Hilir
DOI:
https://doi.org/10.36085/jupank.v6i1.9601Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kasus diskriminasi dan perundungan yang sering terjadi di Indonesia karena perbedaan latar belakang. Contohnya peristiwa sampit, perundungan yang dialami siswa kelas dua SDN Jomin Barat 2 Cikampek pada tahun 2023 sebab berbeda keyakinan, dan perilaku siswa di SMAN 1 Silat Hilir yang masih membedakan teman berdasarkan latar belakang suku saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Dalam hal ini pendidikan agama dapat menjadi salah satu alternatif untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dan mencegah perilaku-perilaku tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penanaman nilai-nilai kebhinekaan di SMAN 1 Silat Hilir melalui guru Pendidikan Agama Islam, guru Pendidikan Agama Katholik, guru Pendidikan Agama Kristen, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini berlokasi di SMAN 1 Silat Hilir menggunakan metode berupa pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: wawancara semi terstruktur dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling, observasi non partisipan, dan dokumentasi. Teknik analisis data berupa pengumpulan data mentah, reduksi data, penyajian data (data display), serta penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa guru pendidikan agama (Islam, Katholik, Kristen) menanamkan nilai kebhinekaan melalui dua langkah yaitu: a) melalui pembelajaran pendidikan agama di kelas seperti; melakukan integrasi nilai kebhinekaan pada materi pelajaran agama, menggunakan pendekatan kontekstual dalam menyampaikan materi pelajaran (guru PAI tidak menggunakan ini), dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif. b) melalui kegiatan di sekolah. Dampak terhadap sikap, perilaku, pola pikir, dan cara siswa berkomunikasi juga sudah mulai menunjukan perkembangan positif, namun masih terdapat beberapa siswa Islam yang kurang toleran pada awal masa studi, tetapi dapat diminimalisir seiring berjalanya waktu. Kemudian faktor pendukung dan penghambatnya dapat dikategorikan menjadi dua macam yakni faktor internal dan eksternal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa SMAN 1 Silat Hilir telah menanamkan nilai-nilai kebhinekaan melalui pendidikan agama yang tampak dari adanya kemajuan dalam pembentukan karakter siswa, Meskipun demikian, proses tersebut masih memerlukan perhatian dan penguatan secara berkelanjutan terutama pada awal masa studi (kelas X).
Kata Kunci: Penanaman Nilai, Nilai-Nilai Kebhinekaan, Pendidikan Agama, Toleransi
_.png)
