Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP
<p style="text-align: justify;">Jurnal Manajemen Publik & Kebijakan Publik (<a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1597842187" target="_blank" rel="noopener">e-ISSN: 2745-8660</a>, <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1563354961" target="_blank" rel="noopener">p-ISSN: 2685-7499</a>), diterbitkan oleh program studi Administrasi Publik , sebagai wadah forum antara para akademisi, peneliti /praktisi, bidang kebijakan publik, manajemen tata kelola pemerintahan (sector publik). Untuk, menyampaikan gagasan dan menumbuhkan keunggulan dan berbagi pengalaman dan membuat strategi dalam mengatasi permasalahan penelitian dalam bidang administrasi, kebijakan publik, manajemen dan tata kelola pemerintahan. Jurnal ini diterbitkan dua kali dalam setahun (Maret dan September). </p> <p style="text-align: justify;">JMPKP: Jurnal Manajemen Publik & Kebijakan Publik telah terakreditasi peringkat 4 (SINTA 4) berdasarkan <a href="https://drive.google.com/file/d/1PBPn66-D_8GldNdbOpmoP5Z2q1drztkz/view" target="_blank" rel="noopener">Sertifikat dan Keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia No. 10/C/C3/DT.05.00/2025 tentang Peringkat Akreditasi Jurnal Ilmiah Periode I Tahun 2025</a>. Akreditasi berlaku selama 5 (tiga) tahun, mulai dari Volume 6 Nomor 1 Tahun 2024 sampai dengan Volume 10 Nomor 2 Tahun 2028.</p>Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhamamdiyah Bengkuluen-USJurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)2685-7499Pemanfaatan Sistem Pelayanan Publik dalam Meningkatkan Hubungan Sosial: Studi Kasus di Kecamatan Cipadung, Bandung
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/8528
<p>This study aims to understand how public services in Cipadung Subdistrict, Bandung City, function not only as administrative processes but also as a way to build social relationships between the community and the government. The research uses a descriptive qualitative method, with data collected through in-depth interviews, direct observation, and documentation. The results show that digitalization has improved administrative efficiency, but access is still uneven, especially for elderly people and those with lower education levels. The gap in digital literacy creates barriers to accessing services fairly. On the other hand, programs such as “Obos” and “Sesah Hilapna” show that public services can also serve as a space for citizen participation and strengthen social unity. Public services in Cipadung demonstrate that service quality is not only about speed or efficiency, but also about how well the service reaches all groups in society fairly. Therefore, a more socially aware and inclusive approach is needed so that public services can function better and strengthen trust between citizens and the government.</p>M. Hafizh IrhabMeli Fauziah
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-098111010.36085/jmpkp.v8i1.8528The Role of Protocollary Management in Realizing Harmonization Between Bureaucracy in the Government of the Riau Islands Province
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/8063
<p>Protocol is a crucial aspect in the administration of regional government, especially in supporting the smooth running of the official agenda of the Governor of the Riau Islands as regional head and representative of the central government in the region. The role of protocol is not only limited to regulating spatial planning and ceremonies, but also functions to maintain the image of the institution, strengthen communication between agencies, and ensure respect for various local customs. This research aims to analyze the role of management in implementing the Riau Islands Governor's protocol and identify the challenges faced. This research uses a qualitative descriptive method. This research discusses the transformation of protocol management within the Riau Islands Provincial Government which no longer merely carries out the technical function of organizing ceremonial events, but has developed into a strategic instrument in supporting the effectiveness of government communications, strengthening the institutional image, and maintaining smooth cross-bureaucratic coordination. In conclusion, the role of protocol is not only focused on the technical planning of ceremonial events, but has also developed into an important element in managing government communications, ensuring smooth coordination between bureaucracies, and forming a positive image of local government.</p>Careca Ady GunaRumzi SaminFitri Kurnianingsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-0981112010.36085/jmpkp.v8i1.8063Evaluasi Program Bantuan Sosial Dalam Menurunkan Tingkat Kemiskinan Ekstrem di Daerah Khusus Jakarta ( Studi Di Kampung Apung Jakarta Utara )
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/8334
<p>The source of the problem is that social assistance recipients have not received education regarding the funds provided will be used for more priority matters and the fact that some social assistance recipients feel dependent on the assistance provided by the Government. Recipients of social assistance must be given education so that the funds received are not misused by recipients of social assistance. The type of research applied is descriptive research with a qualitative approach with 3 methods of data collection, namely interviews, observation, and documentation. The aim is to determine the Evaluation of Social Assistance Programs in Reducing Extreme Poverty Levels in the Special Region of Jakarta (Study in Kampung Apung North Jakarta). The research aspect that will be studied by the researcher is whether the recipients of social assistance meet the following criteria: 1) Head of family or manager who is not working. 2) Worried about not being able to eat. 3) Daily food expenses. 4) new clothes in the last year. 5) Floor of a residential building. 6) Walls of the residence. 7) Toilet facilities. 8) Lighting in the house.</p>Andrea Mutiara RiyanwarBobby Mandala PutraBudiman Sakti
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-0981213410.36085/jmpkp.v8i1.8334Efektivitas dan Tantangan Pengelolaan Barang Milik Daerah Menggunakan Sistem Informasi Manajemen-Barang Milik Daerah (SIMDA- BMD)
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/8758
<p>Abstract: This study aims to determine the effectiveness and obstacles of implementing the Regional Asset Management Information System (SIMDA-BMD) in improving the efficiency and accountability of regional asset management at the Bandung Regency Education Office. This study uses a qualitative approach. Data collection was conducted through interviews, observations, and literature, as well as document analysis. The population and sample in this study were employees at the Bandung Regency Education Office who handle assets that are determined on a perpusive basis. The results show that SIMDA-BMD has succeeded in improving the accuracy of BMD inventory data and simplifying the digital asset management process. SIMDA-BMD also accelerates the reporting process and minimizes manual errors in data recording. For better BMD management, it is necessary to improve training for human resources, reduce reliance on manual recording, improve infrastructure, and evaluate to align the development and effectiveness of management.</p>Agung ZulqurnaenNur Asiah
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-09813546Efektivitas Strategi Komunikasi Publik dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat terhadap Program Pemerintah Daerah Pada Era Digital Di Kota Medan
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9043
<p>Perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, termasuk di tingkat daerah. Di era digital, strategi komunikasi publik menjadi faktor penting yang menentukan efektivitas kebijakan serta partisipasi warga. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas strategi komunikasi publik Pemerintah Kota Medan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat pada program pemerintah daerah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan sampel 150 responden yang dipilih secara purposive, yaitu warga berusia ≥17 tahun yang berdomisili di Medan dan pernah mengakses informasi digital pemerintah. Data dikumpulkan melalui kuesioner Likert dan dianalisis dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan SmartPLS. Hasil menunjukkan seluruh dimensi strategi komunikasi publik, meliputi kejelasan informasi, media digital, interaktivitas, kredibilitas, serta aksesibilitas, berpengaruh signifikan terhadap partisipasi masyarakat. Secara simultan, kelima dimensi menjelaskan 62% variasi partisipasi. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi publik yang jelas, interaktif, kredibel, dan inklusif.</p>Ferry Hidayat
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-0981475810.36085/jmpkp.v8i1.9043Penghapusan Wilayah Kerja Pendidikan: Respon dan Implikasinya terhadap Kinerja Pengawas Satuan Pendidikan
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9110
<p>The Working Area, commonly referred to as Wilker, is a small unit located in each sub-district. Within the Working Area unit, there is a structure consisting of a regional coordinator (Korwil), staff, treasurer, and education unit supervisor. The existence of Wilker is considered important because it is geographically located in the area of the education unit supervisor's partner school, namely in each sub-district, thus facilitating the supervisor in providing guidance to schools. The policy to eliminate Wilker has created a new climate, requiring education unit supervisors to adapt and face challenges related to work mobility. This study uses a qualitative approach by interviewing representatives of supervisors, inspectors, and the Jombang District Education and Culture Office. This study aims to analyze the impact of the Wilker abolition policy on the performance of education supervisors in Jombang using symbolic interactionism theory as an analytical tool. The results of this study indicate that the elimination of Wilker received responses in the form of disappointment and negotiations regarding fingerprint rules, adaptation to digitization, and adjustments to coaching strategies, which were interpreted as symbolic changes in the work system that had implications for perceptions of effectiveness and the performance patterns of education unit supervisors</p>Nuril Eka Fani AgustinIva Yulianti Umdatul Izzah
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-0981597910.36085/jmpkp.v8i1.9110Hubungan antara Luas Panen Padi terhadap Emisi Metana di Indonesia: Analisis Data FAO dan BPS
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9562
<p>Abstract: <em>This study aims to analyze and describe the trend of Rice Harvest Area in Indonesia using data from the Central Bureau of Statistics (BPS) and the trend of methane (CH</em><em><sub>4</sub></em><em>) emissions from the rice agriculture sector based on data from the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) for the 2018–2022 period. The study also identifies the quantitative relationship between the Rice Harvest Area and the amount of methane gas emissions in Indonesia. The type of research used is descriptive quantitative, utilizing secondary data from BPS for the Harvest Area and from FAO for the Total Agricultural Methane Emissions. Methane emission calculations were performed using an emission factor-based approach from the IPCC 2006 Guidelines 4, with the assumption of a continuously flooded water regime (SF</em><em>w</em><em> = 1.0), and the analysis of the relationship between variables used the Pearson Correlation method. The results show that the trend of the rice harvest area and the annual methane emission trend exhibit a very similar pattern, generally declining from 2018 to 2021 before slightly increasing in 2022. Furthermore, the Pearson correlation analysis results show a value of r = 1.00, which indicates a very strong positive correlation between the Rice Harvest Area and the Annual Methane Emissions. This finding confirms that the increase in the rice harvest area directly contributes to the increase in total methane emissions released into the atmosphere because flooded rice fields create anaerobic conditions that are ideal for methane-producing microorganism</em><em>.</em></p> <p>Keywords: <em>Rice Harvest Area</em>;<em> Methane Emissions (CH</em><em><sub>4</sub></em><em>)</em>;<em> Pearson Correlation</em>;<em> FAO</em>;<em> BPS</em>.</p> <p>Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan tren Luas Panen padi di Indonesia menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta tren emisi metana (CH<sub>4</sub>) dari sektor pertanian padi berdasarkan data <em>Food and Agriculture Organization of the United Nations</em> (FAO) periode 2018–2022. Penelitian ini juga mengidentifikasi hubungan kuantitatif antara Luas Panen padi dengan jumlah emisi gas metana di Indonesia. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari BPS untuk Luas Panen dan FAO untuk Total Emisi Metana Pertanian. Perhitungan emisi metana dilakukan dengan pendekatan berbasis faktor emisi dari IPCC 2006 Guidelines, dengan asumsi rezim air tergenang terus-menerus (SFw = 1.0), dan analisis hubungan antar variabel menggunakan metode Korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren luas panen padi dan tren emisi metana tahunan memiliki pola yang sangat mirip, cenderung menurun dari tahun 2018 ke 2021 sebelum sedikit meningkat pada tahun 2022. Lebih lanjut, hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan nilai <em>r = 1.00</em>, yang mengindikasikan adanya korelasi positif yang sangat kuat antara Luas Panen padi dan Emisi Metana Tahunan. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan luas panen padi secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan total emisi metana yang dilepaskan ke atmosfer, karena lahan sawah yang tergenang menciptakan kondisi anaerob yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana.</p>salsa fajriyaApip SupriadiAsep Yusup HanapiaRivan Indra MaulanaRohyatul KiromRosie Suci PebrianiShafdiar Gustira
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-0981808910.36085/jmpkp.v8i1.9562Evaluasi Aplikasi E-Buddy dalam Meningkatkan Efisiensi Pelayanan Administrasi Surat Dinas di Pemerintah Desa Kajeksan Kecamatan Tulangan
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9571
<p>Pelayanan administrasi surat dinas memerlukan pengelolaan efisien dan akuntabel sebagai fondasi komunikasi resmi pemerintahan. Penelitian ini mengkaji permasalahan rendahnya optimalisasi fitur disposisi dan ketergantungan pada sistem manual dalam penerapan aplikasi E-Buddy di Pemerintah Desa Kajeksan. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi efektivitas aplikasi E-Buddy dalam meningkatkan efisiensi pelayanan administrasi surat dinas menggunakan teori evaluasi kebijakan William N. Dunn (2003) dengan enam kriteria: efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap tiga informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi E-Buddy efektif dalam meningkatkan kecepatan pelayanan dan ketertiban administrasi, namun belum optimal karena rendahnya pemanfaatan fitur disposisi (hanya 2-3% dari total surat masuk), kesenjangan digital aparatur, serta kendala teknis. Dari enam kriteria evaluasi, hanya aspek ketepatan yang mencapai tingkat optimal, sementara lima kriteria lainnya masih memerlukan perbaikan melalui peningkatan kapasitas SDM, stabilitas teknis, dan penguatan SOP.</p>Eka Azhar AbiyyahIsnaini Rodiyah
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-09819010710.36085/jmpkp.v8i1.9571Transformasi Digital dalam Pengelolaan Perjalanan Dinas di Kementerian Keuangan: Rancang Bangun e-Perjadin
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9504
<div><span lang="IN">Di era digital yang semakin maju, pemerintah dituntut untuk terus melakukan transformasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rancang bangun (roadmap) integrasi sistem e-Perjadin dalam mendukung transformasi digital pengelolaan perjalanan dinas di Kementerian Keuangan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi e-Perjadin dengan Sistem Akuntansi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) merupakan langkah strategis jangka pendek untuk mengurangi input data ganda, mempercepat pencairan dana, dan meningkatkan transparansi anggaran melalui audit trail. Dalam jangka panjang, e-Perjadin dirancang untuk terhubung dengan sistem mitra seperti platform penyedia layanan perjalanan (ticketing dan akomodasi) guna meningkatkan efisiensi dan akurasi data perjalanan dinas secara menyeluruh. Namun, tantangan seperti standarisasi data, tata kelola keamanan, dan interoperabilitas sistem perlu diatasi secara bertahap. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi sistem yang baik dapat mendukung otomatisasi penuh pengelolaan anggaran perjalanan dinas dan analisis data real-time untuk perencanaan keuangan yang lebih efektif. Kebaharuan penelitian terletak pada eksplorasi tahapan integrasi sistem secara komprehensif serta pendekatan praktis melalui wawancara langsung dengan pemangku kepentingan terkait implementasi e-Perjadin<span class="longtext">.</span></span></div>Nur Ashilah Raihanah HermanMuhammad Heru Akhmadi
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-098110812610.36085/jmpkp.v8i1.9504Evaluasi Program Pelatihan Dalam Mengembangkan Industri Batik Tulis di Desa Pakandangan Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/8654
<p>Desa Pakandangan merupakan daerah semenjak dahulu sebagai pusat batik tulis yang senantiasa memelihara keahliannya dalam membatik yang diperoleh turun temurun. Awal mula kerajinan batik tulis mulai dikembangkan oleh masyarakat Desa Pakandangan Kecamatan Bluto, yang akhirnya meluas ke seluruh wilayah Kabupaten Sumenep. Profil pelatihan dalam pengembangan industri batik tulis di Desa Pakandangan, Kecamatan Bluto, berfokus pada dua aspek utama, yaitu desain dan pewarnaan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hasil Evaluasi Program Pelatihan Pengembangan Batik Tulis Di Desa Pakandangan Kecamatan Bluto Kabupaten Sumenep. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi lapangan, dokumentasi, studi Pustaka. Dalam penelitian ini menggunakan teori evaluasi kebijakan dari Bridgman dan Davis (2000) ada empat indikator, yaitu Input, Process, Outputs, Outcomes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 2022-2024 adanya penurunan omset, hasil produksi, dan tenaga kerja sehingga ada dua sentra batik tulis yang gulung tikar disebabkan kurang perhatiannya pemerintah.</p>Karima Sahranafa Sahranafa
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-142026-03-148112714510.36085/jmpkp.v8i1.8654Implementasi Program Tim Pendamping Keluarga Dalam Membangun Desa Mandiri : Studi Kasus Desa Jambangan Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9321
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam membangun desa mandiri di Desa Jambangan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program TPK telah berjalan cukup baik namun belum optimal. Dari aspek komunikasi, sosialisasi belum dilakukan secara formal di tingkat desa sehingga informasi program belum tersampaikan secara merata. Dari aspek sumber daya, dukungan finansial dan sarana operasional sudah tersedia, tetapi pelaporan masih terkendala sistem dan jaringan internet. Sementara dari aspek disposisi, kader menunjukkan sikap positif, antusias, dan bertanggung jawab. Struktur birokrasi berjalan sederhana dan fungsional melalui pembagian wilayah kerja yang proporsional. Secara keseluruhan, TPK berperan penting dalam memperkuat ketahanan keluarga dan mendukung kemandirian desa.</p>Della RahmawatiIsna Fitria Agustina
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-098114616510.36085/jmpkp.v8i1.9321Manajemen Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Aparatur Pemerintah Desa dalam Mendukung Pelayanan Publik Berbasis Digital di Kabupaten Ngawi
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9920
<p>The digital transformation of public services at the village level requires adequate competencies of village government officials as the main actors in implementing the Electronic-Based Government System. This study aims to analyze the management of competency development of village government officials in supporting digital-based public services through a case study of the implementation of the SRIKANDI and SRIGATI applications in Ngawi Regency, Indonesia. This research employs a qualitative descriptive approach, with data collected through in-depth interviews, observation, and documentation. Data analysis was conducted using an interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the management of competency development among village officials has not been implemented strategically and sustainably. Competency planning is not based on actual needs, implementation remains formalistic and oriented toward short-term technical training, and evaluation is not linked to performance outcomes or the impact of digital public services. As a result, the utilization of digital services tends to be administrative in nature and has not been optimal in creating public value. This study emphasizes that strengthening the strategic management of competency development is a fundamental prerequisite for the successful digital transformation of village-level public services within the digital governance framework</p>Khoyrul AnwarLina sugiyantoRachmawati Koesoemaningsih
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-098116618810.36085/jmpkp.v8i1.9920Peran ProKlim Sadanta Edukasi dalam Ketahanan Pangan di Desa Katulisan
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9712
<p>Kampung Sadanta di Desa Katulisan telah memulai Program Kampung Iklim (ProKlim) sejak Tahun 2020. Program ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengurus ProKlim, dan peninjauan dokumen kegiatan. Berdassarkan hasil penelitian, ProKlim memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi. Pada aspek ketahanan pangan, ProKlim mengembangkan budidaya ikan lele dengan dukungan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian Kabupaten Serang, termasuk bantuan bibit ikan dan 1.000 bibit tanaman. Selain itu, program ekonomi sirkular seperti bank sampah dan Koperasi Dagang Syariah Sandata Edukasi meningkatkan nilai ekonomi warga. Secara keseluruhan, ProKlim di Sadanta menunjukkan bahwa tata kelola sumber daya alam berbasis masyarakat dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan pangan desa sekaligus meningkatkan kesadaran akan perubahan iklim.</p>Herdandi DandiSyifa Rahma NatashaRiswanda
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-098118920610.36085/jmpkp.v8i1.9712Efektivitas Kebijakan Sampah Kota Bandung: Peran Collaborative Governance dan Pemberdayaan Masyarakat
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9066
<p>Permasalahan pengelolaan sampah di Kota Bandung semakin kompleks dengan timbulan harian mencapai ±1.600 ton dan diproyeksikan meningkat hingga lebih dari 2.200 ton pada tahun 2041. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh collaborative governance dan pemberdayaan masyarakat terhadap efektivitas implementasi kebijakan pengelolaan sampah. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory survey. Jumlah responden sebanyak 100 orang yang terdiri atas ASN/DLH, pengelola bank sampah, kader lingkungan, dan masyarakat umum, dipilih melalui teknik purposive dan proportionate stratified random sampling. Instrumen kuesioner dengan 28 item pernyataan telah teruji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha X1 = 0,875; X2 = 0,892; Y = 0,901). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa collaborative governance berpengaruh signifikan terhadap efektivitas implementasi kebijakan (β = 0,421; p < 0,05), pemberdayaan masyarakat juga berpengaruh signifikan (β = 0,389; p < 0,05), dan secara simultan keduanya berkontribusi sebesar 56,4% terhadap efektivitas implementasi kebijakan (R² = 0,564). Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan persampahan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh sinergi antaraktor melalui tata kelola kolaboratif dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam pengembangan model tata kelola persampahan berbasis Extended Stakeholder Responsibility (ESR).</p>Ginanjar Wira SaputraPandji SantosaJossy Adiwisastra
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-098120721610.36085/jmpkp.v8i1.9066Model Transparansi Pengelolaan Dana Desa untuk Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia
https://jurnal.umb.ac.id/index.php/JMPKP/article/view/9065
<p>Village fund transparency is widely recognized as a prerequisite for ensuring public accountability and fostering sustainable development in Indonesia. Despite the existence of formal regulations, challenges remain at the implementation level, particularly in relation to limited digital literacy, insufficient community involvement, and weak administrative capacity within village institutions. This study aims to formulate an adaptive and context-specific model of village fund transparency that not only complies with regulatory frameworks but also incorporates local cultural values to strengthen governance legitimacy.</p> <p>A qualitative multiple-case study design was applied in selected villages in Central Java and South Sulawesi. Data collection involved in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and the examination of official documents. Thematic content analysis was employed to identify emerging patterns, while data validity was ensured through triangulation of sources, methods, and member checking with informants. The study identified three fundamental pillars of effective transparency: (1) digital-based information disclosure to enhance public access, (2) inclusive community participation in both planning and monitoring processes, and (3) the integration of local cultural norms into governance mechanisms. This framework addresses the shortcomings of rigid and formalistic systems and contributes to stronger social legitimacy in village governance.The research offers theoretical insights into the discourse on public administration, particularly regarding fiscal transparency at the village level. Practically, the proposed model provides a framework for policymakers to design village fund governance strategies that are more adaptive, participatory, and sustainable in the long term.<strong> </strong></p>Susniwati SusiDiana SukorinaYulinda Uang
Copyright (c) 2026 Jurnal Manajemen Publik dan Kebijakan Publik (JMPKP)
2026-03-092026-03-098121722810.36085/jmpkp.v8i1.9065